Political Test

11 06 2008

Dari rekan saya di sebuah forum, saya temukan test online menarik, kalo ada yang tertarik untuk iseng-iseng nyobain test itu buat mengenali posisi politikmu, silakan diambil di Politicalcompass.org (ternyata saya sendiri masuk spektrum libertarian-left). Test ini menganalisa posisi politik anda dari 2 bidang utama: ekonomi dan sosial.

Adapun hasil test yg saya adalah sebagai berikut:

Economic Left/Right: -3.25
Social Libertarian/Authoritarian: -2.82

Sedangkan kalau dibuat perbandingan dengan tokoh-tokoh besar dunia, kira-kira spektrum mereka seperti ini:





Kemarin…

10 06 2008

Kemarin…

Sekali lagi kebebasan dikalahkan atas nama kebaikan “bersama”…

Ternyata arti “bersama” dalam lembaran itu adalah kaum terbanyak….

Rupanya si kecil tertindas itu mesti dipinggirkan dari kebersamaan….

Dan sekarang “ika” dipuja, dan “bhinneka” dinafikan.

tanpa menyadari bahwa keduanya TUNGGAL…





Akan Bubarkah Gerombolan Preman Berjubah Itu?

5 06 2008

The nice part about being a pessimist is that you are constantly being either proven right or pleasantly surprised. ~George F. Will, The Leveling Wind

Kok saya pesimis ya?

Memang sih puluhan anggotanya sudah ditahan, tapi mungkin ini cuma sekedar pelipur bagi mereka yang resah akan keberadaan kelompok penebar gelisah ini.

Lanjutkan Membaca >>>





Selamat Hari Waisak

19 05 2008





[Artikel]: Tuhan

12 05 2008

Tadi iseng berkelana di berbagai milis, hari ini saya temukan satu artikel bagus berjudul “Tuhan” ditulis oleh Soe Tjen Marching. Tulisan ini menurut saya sangat indah, dan mengajak kita untuk merenung agar kita mengenali Tuhan yang paling sejati, bukan “Tuhan” yang dilahirkan dari konsepsi dan ego manusia.

Mari kita simak bersama ;)

TUHAN

“Kalau Tuhan benar-benar ada, maka sudah seharusnya dia dimusnahkan,” kata seorang filsuf Rusia Mikhail Bakunin. Tuhan yang menyerang Jemaah Ahmadiyah dan Tuhan yang saya pelajari di bangku sekolah membuat saya mengamini Bakunin. Tuhan, yang harus ditulis dengan huruf besar sebagai tanda keagungan-Nya. Tuhan yang lelaki, atau paling tidak yang mempunyai kekuasaan patriarki, dan yang membuat mulut bocah saya terbungkam ketika hendak melontarkan pertanyaan “mengapa perempuan tidak bisa menjadi pastor?”

Klik untuk yang masih geram dan penasaran soal Tuhan >>>





Bebas Memilih

9 05 2008

Gara-gara banyak ngebaca berita dan artikel soal Ahmadiyah, saya jadi teringat dialog saya dengan seorang ustad sewaktu ikut pengajian ketika masih kecil dulu. Sebenarnya Ini hanya sebuah percakapan sederhana antara seorang santri dengan ustad yang mempertanyakan doktrin-doktrin yang sudah dipegang erat kaum mainstream, namun dialog tersebut cukup berkesan dalam diri saya:

Ustad: Dalam kitab suci disebutkan bahwa tiada paksaan dalam beragama.
Saya: Itu berarti kita bebas untuk memilih jadi beriman atau tidak?
Ustad: Betul sekali! Kita bebas untuk memilih agama A, B, C atau tak beragama sekalipun.
Saya: Dan kalau kita memilih agama selain agama ini? Atau kita memilih untuk tak beriman sama sekali?
Ustad: Ya boleh-boleh aja… tapi kita akan masuk neraka.
Saya: Termasuk mereka yang baik hati seperti Bunda Theresa, Mahatma Gandhi, Pak fulan (seorang kenalan yg beragama lain namun baik hati) dan sebagainya, akan masuk ke neraka karena beragama lain??
Ustad: ya begitulah, dik. Karena mereka memilih jalan lain diluar yang telah digariskan Allah.
Saya: Lho! Tadi katanya kita bebas milih??
Ustad: Dik! Allah itu ngasih tau kita jalan yang benar. Kalau kita gak mau dengerin petunjuk Dia, kita akan memilih jalan yang salah, dan akhirnya tergelincir di jurang neraka.
Saya: Nah lho, yang nyiptain neraka tuh siapa?
Ustad: Ya Allah tentunya dong!
Saya: Lha! Kalo gitu kenapa Dia bisa bilang kita BEBAS memilih, kalo dari awal Dia udah nyiapin tempat barbeque manusia bernama neraka buat orang-orang yang memilih jalan alternatif lain???
Ustad: Dik! Jaga mulutmu! Ini Tuhan yang sedang kamu bicarakan!!!
Saya: Maaf, Pak! Saya hanya tak bisa membayangkan kalo orang-orang baik yang saya sebut tadi dipanggang selamanya hanya gara2 milih jalan lain itu…
Ustad: Sami’na wa atho’na! Kamu nurut sajalah! Toh Allah sudah ngasih kamu udara untuk kau hirup, air untuk kau reguk dan jutaan nikmat lainnya… kurang apalagi sampai kau kurang ajar mempertanyakan apa yang sudah digariskan-Nya?

Sayapun terdiam ditegur seperti itu, dan menerima kenyataan bahwa Tuhan memang seperti itu.

Lantas, apakah selesai sampai disini? >>>





Film “Fitna” Buatan Indonesia

2 05 2008

Beberapa waktu lalu saya sempet posting soal film berjudul “Fitna” buatan seorang politisi sayap kanan Belanda. Dan saya gak ada maksud mengungkit-ungkit kisah yang sebenarnya udah agak tenggelam. Beberapa teman dan rekan blogger lainnya juga sudah banyak yang membahas mengenai kedangkalan film Geert Wilders ini, jadi ngapain juga musti dipanaskan lagi?

Tetapiiiiii…. beberapa hari yang lalu saya menemukan hal yang mengejutkan di Youtube. Kenapa mengejutkan? Karena saya menemukan “versi lain dari film Fitna”, yaitu versi Indonesia:

Dalam film diatas, adegan yang paling membuat saya sedih dan mengurut dada adalah ketika salah satu penceramah menganjurkan untuk membunuh pengikut Ahmadiyah dimanapun mereka berada, kepada khalayak yang menyimak ceramahnya…. sangat menyedihkan, karena tanpa sengaja hal itu malah mendukung pandangan Geert Wilders mengenai Islam. Berikut sedikit cuplikan dari khotbah Ustad Sobri Lubis (Sekjen Front Pembela Islam):

…kami katakan: kami ajak kepada umat islam untuk perangi Ahmadiyah! Bunuh Ahmadiyah dimanapun mereka berada, saudara-saudara! Allahu Akbar!! Bunuh-bunuh bunuh-bunuh !!! …Ahmadiyah halal darahnya untuk ditumpahkan… persetan dengan HAM! Tai kucing dengan HAM!!”

Merekalah sebenar-benarnya kelompok yang menodai dan menghinakan Islam. Mereka inilah teroris!! Semoga pemerintah masih punya nyali untuk menindak tegas kelompok-kelompok yang menabur benih kebencian semacam ini. Kelompok inilah yang lebih patut untuk dibubarkan dan dikenai pasal penistaan agama!

Bila Geert Wilders melihat video ini mungkin dia akan tersenyum lebar seraya berseru: “Saya bilang juga apa?”





Buku-buku Robert Greene

28 04 2008

Baru-baru ini saya membaca dua buah buku karya Robert Greene yaitu “48 Hukum Kekuasaan” dan “33 Strategi Perang”. Jenis kedua buku ini adalah buku pengembangan diri, namun mereka memiliki rasa yang sangat amat berbeda dengan buku-buku pengembangan diri pada umumnya, yang biasanya berkutat pada ide-ide seputar motivasi, imajinasi, berpikir positif, dan sebagainya.

Kedua buku ini teramat sangat pragmatis, bahkan terkesan anti idealis. Robert Greene, yang juga pengagum Machiavelli ini, menulis hal-hal yang menurutnya perlu dilakukan untuk mencapai tujuan, tanpa mengindahkan prinsip-prinsip moralitas (di bagian belakang buku “48 Hukum Kekuasaan” tertulis bahwa ini adalah buku yang amoral). Dan disana-sini terdapat kisah-kisah historis yang dijadikan contoh penerapan prinsip-prinsip yang dijabarkannya, sehingga bisa turut memperkaya wawasan sejarah para pembacanya.

Menurut saya, membaca buku ini bagaikan membaca kumpulan cerpen historis yang sarat dengan strategi dan konspirasi. Padahal, ketika saya melihat bahwa ini adalah jenis buku “pengembangan diri” saya agak ogah-ogahan membukanya, karena kebanyakan buku-buku jenis ini hanya mengulang-ulang ide-ide lama yang tidak konkret untuk mencapai tujuan. Namun ketika saya iseng menengok isinya (buku “48 Hukum Kekuasaan”) saya langsung terpikat dan memutuskan untuk membelinya. Setelah itu saya membeli buku kedua, “33 Strategi Perang”, dan sekarang saya sedang mencari karya Greene selanjutnya, “The Art of Seduction”, yang sampai saat ini belum saya temukan setelah saya keliling beberapa toko buku Gramedia.

Bila digambarkan dengan sedikit kata kedua buku Robert Greene ini: Asyik, Beda dan inspiratif. Memang harganya agak mahal (hampir seratus ribu), dikarenakan buku ini cukup tebal (sekitar 600-700 halaman)… but to me, it’s really worth it.





Common Sense

4 04 2008
“Common sense is nothing more than a deposit of prejudices laid down by the mind before you reach eighteen.” ~Albert Einstein~

Beberapa hari lalu, saya menonton sebuah film serial televisi berbahasa Inggris, dengan acuh tak acuh sekedar mengisi waktu luang. Mendadak ketidakacuhan saya berubah menjadi sebuah perhatian ketika saya mendengar kata-kata yang diucapkan salah satu aktor film tersebut dan menghubungkannya dengan teks terjemahan. Apa yang menjadi pusat perhatian saya waktu itu adalah dua buah kata yaitu “common sense” yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi “akal sehat”.

Sehatkah akal anda?? >>>





Fitna

2 04 2008

Apa yang menyebabkan saya mengakhiri masa hiatus nge-blog saya? :P tidak lain adalah satu hal yang berpotensi membuat dunia yang sudah panas jadi semakin panas….

Apa sih yg bikin panas? >>>