Supaya lebih aman dan nggak deg-deg-an lagi kalau ketemu polisi pada saat naik motor, saya putuskan untuk mengambil SIM C (SIM A sudah punya) tadi pagi.
Saya nggak lewat jalur normal, alias bayar normal, karena konon katanya bakal dipersulit. Saya juga nggak mau lewat calo yang bergentayangan di sekitar kantor pelayanan SIM di Daan Mogot itu. Akhirnya saya lewat biro jasa saja dengan bayaran sekitar lima kali biaya normal. Jalur yang sama yang saya gunakan saat membuat SIM A.
Dan test tertulis yang saya jalankan pun persis sama dengan yang saya alami ketika saya mengambil SIM A dulu: semua jawabannya bisa diketahui dari bekas coretan di soal berlaminating. sooo piece of cake.
Nah lucunya pas melakukan ujian praktek… si penguji cuma bilang “nanti kalau diluar ada yang tanya, gimana ujiannya, bilang aja disuruh ujian praktek zig-zag yaa? jangan bilang belum yaa?” Daann… kami semua lulus ujian ketika mengiyakan anjuran Pak penguji…
Ujian praktek yang luar biasa. Lebih unik daripada saat aku mengambil SIM A dulu: setidaknya saat itu aku disuruh menyetir (meski hanya sejauh kira-kira sepuluh meter).
Mengapa bisa semudah itu? Ya, apalagi kalau bukan karena membayar lebih (biaya yang mahal itu pasti sudah terdistribusi ke kantong-kantong pihak yang bisa mempermudah).
Sebenarnya merasa bersalah juga sih memberi kontribusi dalam korupsi, tapi mau gimana lagi. Kalau gak ngasih bakal sangat dipersulit, dan belum tentu saya ada waktu buat ikut ujian lagi… *sigh*
), dan setelah melihat bentuk dan logo perusahaan pembuat snack itu, saya jadi kepikiran: “kok nggak ada ya yang membuat teori konspirasi dari snack ini?”
), tapi dalam waktu dekat saya pasti akan beli itu buku (udah gajian sekarang 





Recent Comments