Jangan Bilang Belum yaa…

6 06 2009

Supaya lebih aman dan nggak deg-deg-an lagi kalau ketemu polisi pada saat naik motor, saya putuskan untuk mengambil SIM C (SIM A sudah punya) tadi pagi.

Saya nggak lewat jalur normal, alias bayar normal, karena konon katanya bakal dipersulit. Saya juga nggak mau lewat calo yang bergentayangan di sekitar kantor pelayanan SIM di Daan Mogot itu. Akhirnya saya lewat biro jasa saja dengan bayaran sekitar lima kali biaya normal. Jalur yang sama yang saya gunakan saat membuat SIM A.

Dan test tertulis yang saya jalankan pun persis sama dengan yang saya alami ketika saya mengambil SIM A dulu: semua jawabannya bisa diketahui dari bekas coretan di soal berlaminating. sooo piece of cake.

Nah lucunya pas melakukan ujian praktek… si penguji cuma bilang “nanti kalau diluar ada yang tanya, gimana ujiannya, bilang aja disuruh ujian praktek zig-zag yaa? jangan bilang belum yaa?” Daann… kami semua lulus ujian ketika mengiyakan anjuran Pak penguji… :lol: Ujian praktek yang luar biasa. Lebih unik daripada saat aku mengambil SIM A dulu: setidaknya saat itu aku disuruh menyetir (meski hanya sejauh kira-kira sepuluh meter).

Mengapa bisa semudah itu? Ya, apalagi kalau bukan karena membayar lebih (biaya yang mahal itu pasti sudah terdistribusi ke kantong-kantong pihak yang bisa mempermudah).

Sebenarnya merasa bersalah juga sih memberi kontribusi dalam korupsi, tapi mau gimana lagi. Kalau gak ngasih bakal sangat dipersulit, dan belum tentu saya ada waktu buat ikut ujian lagi… *sigh* :|





Kebangetan Ulah Mereka

1 06 2009

Benar-benar Menakjubkan ulah para troll dan bigot jika mereka kalah berdebat. Seperti yang saya saksikan di sebuah Group Facebook (FB) yang mempromosikan pluralisme dan kebebasan beragama. Saya sudah menduga sebelumnya bahwa perdebatan yang akan berlangsung di dalamnya bertaburan dengan flaming, ad-hominem, dan segala fallacy lainnya, terutama dari sekumpulan fanatik yang tak sudi dibilang salah.

Tapi yang terjadi kemudian membuat saya kaget sekaligus prihatin. Ada seorang member wanita yang memang lumayan jago dalam beradu argumentasi dengan para bigot, menceritakan bahwa ada yang memasang nama dan profilnya di group cewek-bispak, sehingga beberapa hari belakangan ini inbox-nya dibanjiri oleh para pria hidung belang yang mengajaknya berbuat mesum.

Gak cuma itu, si pendiri group tersebut dibuat profil kloningannya dengan sama persis, lalu dibuat pula kloningan group dengan tampilan yang sama persis, kecuali thread-thread diskusinya yang isinya monoton dan bertolak belakang dengan visi group yang asli.

Dan belum lama ini salah seorang teman saya yang juga hobi mendebat para bigot, kebingungan mendapati inboxnya diisi pesan-pesan aneh dari kaum Adam. Belakangan ia baru tahu bahwa ada yang memuat foto dan link profil FB-nya di forum gay indonesia… :|

Mbok ya kalo ada yang berseberangan pemikiran dilawan dengan pemikiran juga lah. Dan bila kalah debat ya kalau tak mau mengaku salah minimal diamlah… ngapain sih musti main belakang dan berusaha merusak karakter orang seperti itu? :evil:





[Iseng] Coba-coba Bikin Teori Konspirasi

25 05 2009

Suatu malam lagi iseng ngemil snack merek Oops punya keponakan (bagi ‘dikit gpp donk :P ), dan setelah melihat bentuk dan logo perusahaan pembuat snack itu, saya jadi kepikiran: “kok nggak ada ya yang membuat teori konspirasi dari snack ini?”

Karena teringat bagaimana Indosat dan Trans TV (sebagaimana juga VOC) dikait-kaitkan dengan Zionisme dan Freemason hanya gara-gara kemiripan logo mereka. .. saya jadi bertanya-tanya: dengan begitu banyak kemiripan yang saya temukan di dalamnya, kenapa snack ini tak bernasib sama ya? Yah, mungkin jawabannya karena peran snack begitu kecil ketimbang media dan telekomunikasi seperti yang digeluti kedua perusahaan itu… sehingga para maniak teori konspirasi gak mau susah-susah “meneliti” camilanĀ  gurih ini.

Well, akhirnya dengan mood iseng saya yang memang sedang tinggi-tingginya, saya coba merumuskan sebuah teori konspirasi mengenai snack ini:

teori macam apa itu?>>>





Kembali ke Nge…Blooooog

25 05 2009

Kembali ke Nge…. Bloooog (diucapkan dengan gaya Tukul).

Akhirnya saya kembali lagi melakukan aktivitas blogging ini setelah absen hampir sembilan bulan (bukan karena cuti hamil loh :lol: ). Kenapa bisa lowong selama itu? Yah, mood saya untuk menulis memang drop serendah-rendahnya. Dan kalau boleh saya sodorkan kambing hitam, mungkin diakibatkan oleh kesibukan skripsi (kata Dana: hare gene masih skripsi :lol: ), Disamping itu saya ngerasa buntu total tiap kali berhadapan dengan layar “new post” di-blog saya, bahkan terpikir rencana untuk mematikan blog ini, karena saya sempet ngerasa gak punya sesuatu yang layak untuk ditulis.

And Sabtu kemarin, selagi jalan-jalan di Gramedia Pondok Indah, saya menemukan buku karangan Ndoro Kakung, yg berjudul “Ngeblog Dengan Hati“, saya sempatkan sekitar 20 menit membaca cepat buku itu… dan… suddenly I miss my blog! I miss the feeling that I felt when I spill the content of my brain and my heart into my blog. Akibatnya… sekarang saya putuskan untuk membangkitkan lagi blog ini dari tidur panjangnya. :mrgreen:

Sekarang saya akan berusaha untuk rajin ngeblog dengan menjadikannya sekedar alat untuk berbagi… Kalau yang saya bagi bermanfaat ya syukurlah saya jadi ikut senang, tapi kalau nggak bermanfaat silahkan dikritisi. ;)

PS: Eh iya, maaf… saya cuma baca gratisan aja buku “ngeblog dengan hati” (setelah diamdiam menyobek plastik pembungkusnya tanpa ketahuan karyawan Gramedia :lol: ) dan belum sempat membelinya (maklum domplet lagi super kempes dan belum gajian :cry: ), tapi dalam waktu dekat saya pasti akan beli itu buku (udah gajian sekarang :mrgreen: ).. ‘makasih atas inspirasinya, Ndoro Kakung ;)





Kalau Bukan Kamu Nanti Aku yang Kena

29 09 2008

“Di tengah lautan semua orang bersaudara, tetapi mereka yang memegang pelampung, mungkin tidak mau berbagi ~V, Mafia Manager~

kalau saya amati lebih jauh, pepatah di atas sebenarnya lumrah dalam kehidupan sehari-hari meski tidak seekstrim itu…. Bedanya: kalau analogi di atas menyangkut nyawa siapa yang dikorbankan (bila kapal akan tenggelam), maka dalam kehidupan sehari-hari lebih menyangkut kepentingan siapa yang dikorbankan…

Misalnya di jalan… sering saya melihat metromini dan angkot ngetem seenaknya tanpa peduli kalau mereka bikin macet jalan (yang bisa jadi mengganggu kelancaran pengendara lain yang sedang menuju tempat mereka mencari nafkah). Alasannya? Ya karena para awak angkutan umum itu juga sedang berjuang mencari sesuap nasi! Kalau mereka tidak ngetem, mereka tidak mengganggu kepentingan orang lain tapi resiko kelaparan, sedangkan kalau mereka ngetem mereka mengganggu kepentingan orang lain tapi dapur mereka (setidaknya untuk hari itu) bakal ngebul. Jujur saja, walau saya gondok setengah mati kalau perjalanan saya terganggu aksi ngetem mereka, namun saya juga akan berbuat hal yang sama kalau ada di posisi mereka.

Atau di sekitar lingkungan kerja, belum lama ini saya melihat peristiwa ‘homo homini lupus’ , yang sangat kasat mata, dimana ada seseorang yang bagai Narasoma di cerita Mahabharat, yang memihak “Kurawa” karena terpaksa, dan ikut menyerang “Pandawa” meski secara moral ia mendukung kemenangan lawan yang ia serang itu. Sedangkan kalau ia berpindah pihak, bukan dirinya saja yang kena getahnya tapi rekan-rekan lainnya yang tidak tahu apa-apa bisa ikut kena… *sigh* :(

Dan masih ada beberapa contoh peristiwa “kalo bukan kamu nanti aku yang kena” yang terlalu panjang kalau saya sebut satu persatu disini. Hikmah yang saya dapat dari peristiwa-peristiwa itu adalah: Dalam kehidupan, kita akan lebih banyak berurusan dengan ‘conflict of interest’ semacam ini, malah, seandainya kita memberanikan diri untuk mengedepankan moral di atas ego (atau jadi martir sekalian), adakalanya rekan dan orang terdekat malah ikut terbawa-bawa…

Halagh… apapun itu, yang penting eling bahwa manusia punya potensi menjadi setan maupun menjadi orang suci, karenanya saya harus selalu waspada, tidak mudah percaya tapi juga tidak buru-buru berburuk sangka…

“Bersikap santun pada semua orang, akrab dengan banyak orang, tapi percayai beberapa diantaranya saja…” (ini kutipan dari buku mafia manager yang saya ubah dengan sewenang-wenang :lol: )





Skripsi Memang Menyebalkan!

31 08 2008

Udah!

Bingung mo nulis apaan!

Cuma pengen ngomong gitu doank!

*Kembali melanjutkan mengetik Bab III dari skripsiku*





Zen is…

21 08 2008

Zen is not psychotherapy
Zen is not a commitment
Zen is not a philosophy
Zen is not a psychology
Zen is not a religion
Zen is not a theory
Zen is not a belief
Zen is not a myth
Zen is not faith
Zen is not that
Zen is not it
Zen is not
Zen is
ZEN

(Unknown)





Fallacy Memang Sakti

1 08 2008

Fallacy memang masih mumpuni dalam mengatur cara berpikir sebagian besar insan. Tidak percaya? Anda bisa menyaksikannya dalam kehidupan sehari-hari. Karena kebanyakan toh orang masih mengukuhkannya sebagai pondasi berpikir dalam membuat berbagai kesimpulan.

Berikut beberapa contoh sederhana atas penggunaan fallacy yang saya amati dari keseharian saya (identitas lawan bicara saya samarkan):

Seperti apa sih contohnya?>>>





Respon Atas Sebuah Artikel Mengenai Pluralisme dan Kebebasan

15 07 2008

Sebulan yang lalu saya menemukan sebuah artikel berjudul “Pluralisme, Kebebasan dan Paham-paham Paradoks”, yang menjelaskan betapa paham pluralisme dan kebebasan itu bersifat self-defeating dan kontradiktif sehingga tak pantas sama sekali untuk dijadikan prinsip (Berhubung artikel tersebut sangat panjang maka saya tidak melampirkannya disini, jika ingin melihat silahkan klik link yang saya masukkan di judul artikel tersebut).

Sebenarnya saya ingin merespon artikel ini berminggu-minggu yang lalu, namun karena kesibukan yang menggila, maka baru kali ini saya menyempatkan diri menuliskan respon diantara tenggang deadline kantor yang tak henti menguber-uber.

Okeh! Tanpa perlu berpanjang-panjang lagi, selanjutnya inilah respon saya terhadap artikel beliau tersebut.

Kayak apa sih responnya??>>>





Political Test

11 06 2008

Dari rekan saya di sebuah forum, saya temukan test online menarik, kalo ada yang tertarik untuk iseng-iseng nyobain test itu buat mengenali posisi politikmu, silakan diambil di Politicalcompass.org (ternyata saya sendiri masuk spektrum libertarian-left). Test ini menganalisa posisi politik anda dari 2 bidang utama: ekonomi dan sosial.

Adapun hasil test yg saya adalah sebagai berikut:

Economic Left/Right: -3.25
Social Libertarian/Authoritarian: -2.82

Sedangkan kalau dibuat perbandingan dengan tokoh-tokoh besar dunia, kira-kira spektrum mereka seperti ini: