Suatu malam, pas lagi jalan-jalan cari angin segar, aku melewati lapangan basket yang hanya berjarak puluhan meter dari rumah. Di lapangan itu aku melihat tetanggaku yang sedang duduk kelelahan di bangku di pinggir lapangan, tampak pula sebuah bola basket di sebelah kakinya. Rupanya dia habis berolahraga sendirian.Lalu kusapa ia, tak lupa ditambah sedikit berbasa-basi. Dan entah kenapa aku ingin sekali memegang bola basketnya, karena sudah tahunan lamanya aku tidak bermain basket. Kemudian setelah ia mengijinkan, aku pun iseng men-dribble bola itu dan melakukan beberapa tembakan serta lay-up.
Tapi, disaat aku melakukan tembakan ke arah ring, aku menemukan suatu analogi yang mungkin pantas untuk direnungi.
Saat bola itu meluncur dari tanganku, aku berharap bola tersebut masuk ring, dan timbul perasaan kecewa saat tembakanku meleset. Aku merasa ada kekeliruan disini. Kekeliruan apa itu?
Ketika kita melakukan tembakan ke ring. Kita bisa mengatur sedemikian rupa posisi, timing maupun gerakan dari kaki dan tangan kita, demi kesempurnaan dari tembakan yang hendak kita lakukan. Namun, saat bola tersebut sudah lepas dan meluncur dari tanganku, semestinya aku pasrah dan menyerahkan segala hasil yang akan muncul (apakah masuk ring atau tidak) pada kehendak-Nya.
Mengapa demikian? Sebab aku hanya bisa mengendalikan saat-saat dimana bola tersebut belum lepas dari tanganku (seperti posisi, timining, gerakan, dll). Namun disaat bola sudah lepas dan meluncur dari tanganku, tiada lagi yang dapat kulakukan, semuanya sudah berada di luar kendaliku! Saat bola itu terlepas, takdir telah mengambil alih. Saat bola itu meluncur, aku semestinya pasrah dan tidak lagi menggantungkan harapan pada hasil akhir yang akan muncul. Biarkan Sang Maha Kuasa mengambil alih.
Teringat sebuah doa (aku lupa sumbernya) yang menurutku bagus sekali:
Tuhan,
Berikan aku keberanian untuk merubah hal-hal yang bisa aku ubah
Berikan aku kesabaran untuk menerima hal-hal yang tak dapat aku ubah
Dan berikan aku kebijaksanaan untuk membedakan diantara keduanya.
Dalam hidup ini, kadangkala aku abai akan hal-hal yang bisa (dan perlu) diubah, dan malah keliru dengan berusaha mengubah hal-hal yang sudah tak dapat diubah. Memang diperlukan proses pembelajaran terus menerus, agar memperoleh kebijakan untuk bisa membedakan antara keduanya.
Akhirnya aku pamit dan berterima kasih pada tetanggaku itu atas peminjaman bola basketnya, untuk waktu yang begitu singkat, namun itu merupakan momen yang begitu berharga bagiku.
(di-copy-paste dari blog lamaku yg sudah almarhum)



Begitu juga kita dalam berserah diri kepadaNya ya to, seperti bola basket yang telah lepas dari pengendalian kita.
ini yang dari blog FS-nya kaan?? Ma suka bagian do’anya ituh,,!!
*Ma trekbeknya ke sini aja deh*
@dana: yup… saat bener2 gak ada lagi yg bisa diperbuat, saatnya berserah diri
@Ma: iya… ini doa-nya gw pernah baca somewhere, tapi lupaa dari mana..