“Common sense is nothing more than a deposit of prejudices laid down by the mind before you reach eighteen.” ~Albert Einstein~
Beberapa hari lalu, saya menonton sebuah film serial televisi berbahasa Inggris, dengan acuh tak acuh sekedar mengisi waktu luang. Mendadak ketidakacuhan saya berubah menjadi sebuah perhatian ketika saya mendengar kata-kata yang diucapkan salah satu aktor film tersebut dan menghubungkannya dengan teks terjemahan. Apa yang menjadi pusat perhatian saya waktu itu adalah dua buah kata yaitu “common sense” yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia menjadi “akal sehat”.
Iseng-iseng, saya pun membuka sebuah kamus Inggris, dan kembali mendapati bahwa terjemahan dari kata “common sense” adalah “akal sehat”. Tapi apa yang terjadi saat kata “common” dan kata “sense” dipisahkan? Coba kita lihat, merujuk pada kamus tersebut:
Common: 1 bersama-sama; biasa; 2 umum
Sense: n. 1 perasaan; 2 akal; 3 faham; 4 kesadaran; 5 arti; vb 1 merasa; 2 sadar akan; 3 merasakan suasana.
Dilihat dari kedua kata terpisah diatas, menurut opini saya, kata “common-sense” paling pas jika di-Indonesia-kan menjadi “kesadaran umum/biasa”, atau kesadaran yang biasa dianut oleh masyarakat pada umumnya.
Lantas, kenapa kedua kata tersebut bila disatukan menjadi “akal sehat”?
Mendadak terlintas di kepala sebuah ungkapan lama “Bahasa Menunjukkan Bangsa”. Sebagai contoh: kita memiliki lebih dari satu kata (kalau tidak salah, ada empat) untuk mengartikan kata Inggris “rice”, yaitu: “padi”, “gabah”, “beras” dan “nasi”. Dan orang Inggris cukup menyebut keempat kata tersebut dengan “rice” saja. Dari sini bisa diasumsikan bahwa bangsa kita lebih banyak menghargai dan menaruh perhatian pada “rice” (karena itu adalah makanan pokok mayoritas warga negara kita), ketimbang orang Inggris yang tidak mau repot-repot menambah perbendaharaan kata-katanya untuk sumber karbohidrat yang satu ini.
Sekarang mari kita coba menggunakan filosofi “bahasa menunjukkan bangsa” tadi untuk menjawab pertanyaan mengapa “common sense” diterjemahkan menjadi “akal sehat” dalam bahasa Indonesia. Namun, saya juga menggunakan terjemahan versi saya akan dua kata itu (yaitu “kesadaran umum/biasa”) sebagai bahan perbandingan dalam analisa dangkal ini.
Dan… kesimpulan yang saya dapati cukup menyebalkan: bangsa kita tampaknya menyamakan “kesadaran biasa/umum” sebagai “akal sehat”, sehingga bila dilihat dari antonim-nya, maka yang tidak termasuk kesadaran biasa/umum berarti bukanlah akal yang dianggap sehat. Hal ini tampak menyiratkan bahwa tidak ada tempat bagi pikiran yang keluar dari pakem kesadaran biasa/umum.
Jika bahasa menunjukkan bangsa, apakah hal ini menunjukkan karakter bangsa kita? Menjatuhkan vonis terhadap pemikiran-pemikiran yang dirasakan berbeda terhadap pemahaman (alias “akal sehat”) yang dianut kebanyakan orang??
Sekali lagi ini cuma analisa dangkal saja, jadi wajar kalau ada kekurangan dalam segi akurasi.



jadi kalo tindakannya ga umum, dianggap akalnya ga sehat
rusak dah…
Wah, sepertinya memang begitu to. Bagi kita masyarakat Indonesia ini maka pikiran mayoritas lah yang sehat, sedangkan minoritas pasti tidak sehat. Tidak peduli sesehat apapun pikiran dari si minoritas.
Tapi itu untuk kasus umumnya sih, saya nggak berani memastikan semua kasus akan begitu.
*online dari kampus, kebawa mood kuliah*
Ah, itu… kalo dari kacamata teknik, itu namanya tergantung kalibrasi. Menstandarkan alat ukur ke suatu patokan baku, begitu. ^^
Kalo akal sehat dikalibrasi ke pendapat mayoritas, ya jelas yang paling benar adalah yang paling banyak.
Kalau dikalibrasinya ke agama, yang paling benar yang ikut agama; kalo dikalibrasi ke moralitas yang paling benar adalah pendapat yang lebih mengakui nilai moral.
Kurang lebih begitu sih, IMO….
Wah, kalo ini kayaknya nggak mesti Indonesia aja, mas. Semua bangsa juga, kalau disuruh memilih patokan, pasti umumnya mengambil yang paling banyak + gampang ditemukan. Jadi ada faktor konformitas juga di sini… CMIIW.
jah berarti saya tidak berakal sehat
Berarti akal pikiran saya ini sakit, busuk, dan perlu disembuhkan.
Ah, jadi saya gila dan ga waras ternyata…
sering kita terjebak dalam kesesatan kesadaran
sebenarnya kita hidup dalam realitas semu
karena menolak untuk melihat & menghadapi kenyataan
ayo bangun dari mimpi
hadapi kenyataan & katakan YA pada hidupmu
aku rasa ini hanya masalah kepraktisan saja…
istilah kesadaran biasa/umum malah terkesan asing di telinga…
wah kalau bangsa ini mah kayaknya sudah jarang yang pakai akal sehat..
ada jokes di antara bangsa bangsa, kalau AKAL orang Indonesia mahal harganya, ….karena jarang dipakai
@caplang:
@dana_lingga: memang gak semua kasus sih…
@sora:
sayangnya menganggap konformitas sebagai sesuatu yg “sehat” menyiratkan “sakitnya” sesuatu yg melawan konformitas, padahal tak mesti begitu

@Joyo, Kopral Geddoe & G: buruan ke psikiater gih
@santri gudhik: ya,ya,ya (jadi inget iklan KB tempo doeloe)
@chairina: iya praktis sih, tapi ini menyiratkan…(liat respon saya ke sora)
@orajere: begitukah?
@iman brotoseno: sayangnya otak itu gak seperti barang lain yg makin aus kalo dipake..
::bagiku ini judul lagunya ada band…
nambah lagi perbendaharaannya….