Gara-gara banyak ngebaca berita dan artikel soal Ahmadiyah, saya jadi teringat dialog saya dengan seorang ustad sewaktu ikut pengajian ketika masih kecil dulu. Sebenarnya Ini hanya sebuah percakapan sederhana antara seorang santri dengan ustad yang mempertanyakan doktrin-doktrin yang sudah dipegang erat kaum mainstream, namun dialog tersebut cukup berkesan dalam diri saya:
Ustad: Dalam kitab suci disebutkan bahwa tiada paksaan dalam beragama.
Saya: Itu berarti kita bebas untuk memilih jadi beriman atau tidak?
Ustad: Betul sekali! Kita bebas untuk memilih agama A, B, C atau tak beragama sekalipun.
Saya: Dan kalau kita memilih agama selain agama ini? Atau kita memilih untuk tak beriman sama sekali?
Ustad: Ya boleh-boleh aja… tapi kita akan masuk neraka.
Saya: Termasuk mereka yang baik hati seperti Bunda Theresa, Mahatma Gandhi, Pak fulan (seorang kenalan yg beragama lain namun baik hati) dan sebagainya, akan masuk ke neraka karena beragama lain??
Ustad: ya begitulah, dik. Karena mereka memilih jalan lain diluar yang telah digariskan Allah.
Saya: Lho! Tadi katanya kita bebas milih??
Ustad: Dik! Allah itu ngasih tau kita jalan yang benar. Kalau kita gak mau dengerin petunjuk Dia, kita akan memilih jalan yang salah, dan akhirnya tergelincir di jurang neraka.
Saya: Nah lho, yang nyiptain neraka tuh siapa?
Ustad: Ya Allah tentunya dong!
Saya: Lha! Kalo gitu kenapa Dia bisa bilang kita BEBAS memilih, kalo dari awal Dia udah nyiapin tempat barbeque manusia bernama neraka buat orang-orang yang memilih jalan alternatif lain???
Ustad: Dik! Jaga mulutmu! Ini Tuhan yang sedang kamu bicarakan!!!
Saya: Maaf, Pak! Saya hanya tak bisa membayangkan kalo orang-orang baik yang saya sebut tadi dipanggang selamanya hanya gara2 milih jalan lain itu…
Ustad: Sami’na wa atho’na! Kamu nurut sajalah! Toh Allah sudah ngasih kamu udara untuk kau hirup, air untuk kau reguk dan jutaan nikmat lainnya… kurang apalagi sampai kau kurang ajar mempertanyakan apa yang sudah digariskan-Nya?
Sayapun terdiam ditegur seperti itu, dan menerima kenyataan bahwa Tuhan memang seperti itu.



Recent Comments