Bebas Memilih

9 05 2008

Gara-gara banyak ngebaca berita dan artikel soal Ahmadiyah, saya jadi teringat dialog saya dengan seorang ustad sewaktu ikut pengajian ketika masih kecil dulu. Sebenarnya Ini hanya sebuah percakapan sederhana antara seorang santri dengan ustad yang mempertanyakan doktrin-doktrin yang sudah dipegang erat kaum mainstream, namun dialog tersebut cukup berkesan dalam diri saya:

Ustad: Dalam kitab suci disebutkan bahwa tiada paksaan dalam beragama.
Saya: Itu berarti kita bebas untuk memilih jadi beriman atau tidak?
Ustad: Betul sekali! Kita bebas untuk memilih agama A, B, C atau tak beragama sekalipun.
Saya: Dan kalau kita memilih agama selain agama ini? Atau kita memilih untuk tak beriman sama sekali?
Ustad: Ya boleh-boleh aja… tapi kita akan masuk neraka.
Saya: Termasuk mereka yang baik hati seperti Bunda Theresa, Mahatma Gandhi, Pak fulan (seorang kenalan yg beragama lain namun baik hati) dan sebagainya, akan masuk ke neraka karena beragama lain??
Ustad: ya begitulah, dik. Karena mereka memilih jalan lain diluar yang telah digariskan Allah.
Saya: Lho! Tadi katanya kita bebas milih??
Ustad: Dik! Allah itu ngasih tau kita jalan yang benar. Kalau kita gak mau dengerin petunjuk Dia, kita akan memilih jalan yang salah, dan akhirnya tergelincir di jurang neraka.
Saya: Nah lho, yang nyiptain neraka tuh siapa?
Ustad: Ya Allah tentunya dong!
Saya: Lha! Kalo gitu kenapa Dia bisa bilang kita BEBAS memilih, kalo dari awal Dia udah nyiapin tempat barbeque manusia bernama neraka buat orang-orang yang memilih jalan alternatif lain???
Ustad: Dik! Jaga mulutmu! Ini Tuhan yang sedang kamu bicarakan!!!
Saya: Maaf, Pak! Saya hanya tak bisa membayangkan kalo orang-orang baik yang saya sebut tadi dipanggang selamanya hanya gara2 milih jalan lain itu…
Ustad: Sami’na wa atho’na! Kamu nurut sajalah! Toh Allah sudah ngasih kamu udara untuk kau hirup, air untuk kau reguk dan jutaan nikmat lainnya… kurang apalagi sampai kau kurang ajar mempertanyakan apa yang sudah digariskan-Nya?

Sayapun terdiam ditegur seperti itu, dan menerima kenyataan bahwa Tuhan memang seperti itu.

Meski nurani saya tetap tak bisa menerima, namun perasaan takut akan jatuhnya azab yang akan menimpa diri berhasil membungkam nurani, dan memaksa ego untuk mencari aman, agar tak tergelincir di jembatan shiratal-mustaqim nanti. Toh, bunyi dalil tersebut dilanjutkan dengan kalimat “telah jelas jalan yang benar dan jalan yang salah”, maka bukankah sewajarnya bila Allah menjebloskan para ‘pemilih jalan yang salah’ itu ke neraka? Logikaku saat itu menjawab: wajar! Namun hati merasa ada suatu ganjalan: rasanya tak rela melihat kawan-kawanku yang baik hati (namun beragama lain), terpanggang dalam keabadian setelah mati nanti.

Akan tetapi beberapa tahun setelah itu, saat saya mulai mempelajari pemikiran maupun penafsiran keagamaan yang non-konservatif, saya menemukan “suatu ajaran” yang memprovokasi nalar untuk memberontak melawan penafsiran keagamaan yang ekslusif, jumud dan kaku; sekaligus juga menghasut nurani untuk membangkang terhadap ketakutan berlebihan akan siksa-abadi di akhirat untuk kemudian berpihak pada toleransi dan pluralisme. Ajaran tersebut bila dirangkum dengan sedikit kalimat akan berbunyi: “Pada dasarnya semua agama adalah benar!”

Dan pandanganku soal “jalan yang benar” dan “jalan yang salah” pada dalil soal “kebebasan memilih” tadi jadi berubah. Berubah menjadi kurang teosentris dan kian menjadi antroposentris.

Sesatkah diriku sekarang? Wallahualam. Yang jelas untuk ajaran yang satu ini, baik nalar maupun nuraniku tidak memberontak padanya…. tak seperti pada ajaran yang diindoktrinasikan ketika saya kecil dulu.


Tindakan

Information

8 tanggapan ke “Bebas Memilih”

9 05 2008
Kroco Geddoe (05:53:26) :

Haaalaaah! Kafiiir! Kafiiir! :twisted:

BTW, soal problem of hell itu, menurut pengalaman saya, kebanyakan umat akan mengelak mengatakan ya atau tidak dengan mendengungkan retorika “itu urusan Tuhan”. :)

Tito: Bukannya itu jawaban yg bijak, bro? dengan jawaban seperti itu khan mereka tidak gampang menghakimi the other sebagai penghuni neraka?

9 05 2008
danalingga (06:19:00) :

Gosipnya sih to, ndak ditentukan dari label agamanya untuk sekedar mencicipi bidadari surga itu. Tapi ini gosip loh ya. :mrgreen:

Tito: moga2 bukan sekedar gosip belaka ya? :)

9 05 2008
cK (12:09:34) :

ini pertanda agnostik… :mrgreen:

Tito: Udah bukan pertanda lagi sih :P

12 05 2008
kunderemp (02:12:21) :

Karena kita dikondisikan menafsirkan kebenaran itu kelompok-per-kelompok. Dan itu jadi kritikan oleh orang-orang seperti Leopold Weiss (Muhammad Asad — Wartawan, Yahudi Austria yang masuk Islam) dan M.A.S Abdel Haleem (profesor Islamic Studies di Oxford). Ketika orang-orang di masa Rasulullah mendengar “Islam”, yang dipahami bukanlah agama eksklusif yang disebut “Islam”.

Bukti arkeologi? Menurut Robert Hoyland, profesor Studi Arab dan Timur Tengah, kaum Muslimin tidak menamakan dirinya muslim selama 120 tahun pertama (tulisannya bahkan ada di Islamic-Awareness.org berjudul “The Content and Context of Early Arabic Inscription”). Mereka lebih suka menamakan dirinya Tayayye (atau proto-Arab) atau sebagai orang-orang Mu’min. (pernahkah terpikir, mengapa Khulafur Rasyidin dijuluki “Amirul Mu’minin” dan bukan “Amirul Muslimin”?). Kata Islam yang muncul 70 tahun pertama lebih bersifat kutipan dari Quran atau lebih cenderung umum.

Kalau mau mendebat ustadz tersebut, bisa aja 2:62, 5:69, 22:17. Tapi pengalamanku, orang-orang fanatik dengan identitas ‘Islam’ langsung menyatakan ayat tersebut tidak berlaku — Nasakh Mansukh.

Oh ya..
Shabi’in = orang yang keluar dari agamanya untuk mencari yang lebih baik
Kafir = orang yang mengetahui perintah dari Tuhannya tetapi enggan mengakuinya (jadi bukan karena tidak tahu)

Tito: What a great Info, kund! many thanks ;)

13 05 2008
etca (06:22:14) :

Tulisanmu membuatku teringat pada tulisan seorang kawan karib. Ini Copas dari blognya.

To Be Different Is Not Crime
0 Comments Published by Nanang Musha on Friday, June 2, 2006 at 11:27 PM.

Ketika jalanan terlalu padat oleh keseragaman kita harus bergerak. Mewarnai, atau bahkan menciptakan lorong-lorong baru. Kita tidak sedang berbicara tentang anti-kemapanan atau melawan mainstream. Tidak. Sama sekali tidak. Lorong baru diperlukan bukan untuk memberontak, melawan arus dengan bergerak. Sama sekali bukan. Kita memerlukan lorong baru semata-mata untuk menjaga kesadaran manusia. Sama itu wajar, namun menganggap keseragaman sebagai kewajiban adalah salah. Betapa tidak, perbedaan adalah hukum alam (dalam bahasa lain: Sunnatullah) yang tidak bisa digugat. Sejarah mencatat bahwa beda itu biasa. Justru ketika semuanya sama dan seragam maka kita patut mempertanyakan. Ada apa?

Kita tidak sedang mencurigai ada apa dibalik arus utama. Hanya ingin bersikap kritis dan menjaga kesadaran kita. Apa salahnya jika sesekali bertanya: ada apa? Apa salahnya jika sesekali mengkritisi: jangan-jangan ada sesuatu dibalik ini.
Kita harus mengakui bahwa selama ini telah dicekoki homogenisasi. Kita tidak lagi terbiasa untuk berbeda. Kita tidak lagi berani berkata tidak untuk apa yang kita tolak. Kita terlalu pengecut. Diam dan melarikan diri. Anjing!!

Sekali lagi, kita harus bergerak untuk menjaga kesadaran manusia. Bahwa dalam kondisi tertentu keseragaman bukanlah kewajiban. Betapapun sulitnya untuk memulai, setidaknya kita punya mimpi yang diyakini bahwa berbeda tak selamanya dosa.

15 05 2008
zal (18:14:15) :

::To, jika deskripsinya tentang agama, koq aku lebih berkecondongan pada agama disisi Allah, adalah “Islam”, hanya saja, agama yang ini, adalah agama yg diberikan, disematkan, bagi yg dikendakiNYA, namun kebanyakan merasa on the track, ya udah ajalah…bukan urusanku koq…jangan-jangan yang kelihatan berbuat baik, malah adalah yang membangkang peran yang seharusnya jahat…nah lho…

Tito: kalo menurut saya pengertian “Islam” itu sendiri gak formalistik… bisa jadi mereka yg gak pernah ucapkan 2 kalimat syahadat dan ngejalanin rukun Islam ternyata lebih Islam ketimbang mereka yg menjalankan segala ritual formalistik ke-Islaman itu sendiri

24 05 2008
esensi (03:21:12) :

*mandek sebentar* :roll:
melihat tulisan Anda, saya jadi deja vu…
persis waktu saya SMA

*jalan lagi*

26 06 2008
rumahdamai (00:30:52) :

saya setuju dan tidak juga setuju… Allah Ta’ala menciptakan perbedaan agar umat manusia baik yang beragama maupun yang tak beragama adalah untuk saling berlomba dalam kebaikan… “Ya Allah saya tidak kuat dengan neraka Mu…dan amal apa yang akan memasukan saya ke surga Mu” mungkin ini baru sekedar teori, seharusnya manusia tanpa ada perasaan takut akan neraka dan mengharapkan surga, mereka terus berlomba dalam kebaikan. namun saya yakin…Hanya Karunia Allah semata yang dapat memasukan manusia ke dalam surga, dan dengan kekuasaan-Nya manusia di bebaskan dari neraka

Tinggalkan komentar

kamu dapat menggunakan tag-tag ini : <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>