Fallacy memang masih mumpuni dalam mengatur cara berpikir sebagian besar insan. Tidak percaya? Anda bisa menyaksikannya dalam kehidupan sehari-hari. Karena kebanyakan toh orang masih mengukuhkannya sebagai pondasi berpikir dalam membuat berbagai kesimpulan.
Berikut beberapa contoh sederhana atas penggunaan fallacy yang saya amati dari keseharian saya (identitas lawan bicara saya samarkan):
Contoh 1: Ignoratio Elenchi (jawaban yang mengabaikan pertanyaan)
Saya: Sampe kapan loe mau kayak gini terus? Apa loe pikir kerjaan loe jualan bokep itu bisa disebut pekerjaan yang layak?
Dodo: Wah ini sama sekali bukan pekerjaan yang enteng, bro! Bayangin aja, gua musti spamming di berbagai milis, forum dan mengulanginya berkali-kali setiap kali iklan gua disweeping admin forum/milis itu. Belom lagi gw musti hati-hati supaya gak kelacak identitas gua, biar gak ketangkep… Dan profitnya kadang-kadang lumayan loh, bro!
Komentar: Oke, oke… jualan bokep bukanlah kerjaan enteng dan terkadang untungnya gede… Tapi pertanyaannya, apakah itu pekerjaan yang layak?
Contoh 2: Tu Quoque (kamu juga)
Bunga: Kenapa kamu musti bo’ong sih? Bilangnya ada urusan kantor, gak taunya main ke rumah temen!?
Saya: Lah… bukannya dulu kamu juga pernah bo’ong kan? Inget gak waktu kamu ngaku ke kampus, gak taunya main ke mall??
Komentar: Tentu saja kebohongan pihak lain tak dapat menjadikan kebohongan saya dapat dibenarkan! Buat yang bersangkutan, maaf ya, say…
Sedikit tambahan: argumen macam ini lebih ampuh bila kita mengambil lawan bicara kita sebagai contoh pembanding (dan lebih manjur lagi bila keburukan yang ia lakukan lebih parah dari kita).
Contoh 3: Generalisasi Terburu-buru
Donal: Kalo ngeliat si artis sinetron yg berjilbab itu, kesannya dia itu cewek baik-baik, manis dan lembut yah? Ternyata gak seperti itu…
Saya: Loh! Emangnya kenapa?
Donal: Blom denger apa beritanya? Dia ketauan ngerokok saat nunggu waktu syuting… tau sendiri kan cewe perokok itu biasanya cewe macam apa?
Komentar: Merokok identik dengan ketidakacuhan seseorang terhadap kesehatan. Tapi apa hubungannya merokok dengan cewek baik-baik, manis dan lembut??
Contoh 4: Dilema Palsu:
Abu: Kok tulisan loe ada yg berkesan ngebela JIL (Jaringan Islam Liberal) sih, bro?
Saya: Kalo ada pemikiran yg menurut saya logis dan benar saya akan katakan seperti itu. Memangnya kenapa?
Abu: Sekarang gini aja deh, kalo loe ngebela JIL berarti loe ikut ngerusak Islam, kalo loe ngebela Islam mestinya loe menentang pemikiran mereka!!!
Komentar: Saya pilih alternatif ketiga: membela pemikiran yang menurut saya benar (entah dari JIL atau manapun) dan tidak merusak Islam.
Contoh 5: Argumentum Ad Misericordiam (mengacu pada belas-kasihan)
Saya: Memang sudah semestinya dia dicabut keanggotaannya dari organisasi ini. Dia gak pernah fokus, beberapa kali terbukti mencatut keuangan, dan bukan sekali ini saja dia ketahuan berbuat seperti itu… kita sudah berkali-kali memberinya kesempatan.
Badu: Kalo dia diberhentikan itu akan jadi pukulan berat buat dia, dia sebenarnya bangga bisa jadi bagian dari organisasi ini.. pasti sedih hati dia kalau organisasi yang selama ini dia banggakan malah mendepaknya.
Komentar: dan sedihkah ia waktu berkali-kali menggerogoti uang yang semestinya dimanfaatkan bagi kemajuan organisasi?
Demikianlah sebagian contoh fallacy yang saya dapat dari komunikasi sehari-hari saya dengan lingkungan sekitar. Dan terkadang untuk mengoreksi fallacy yang dilakukan seseorang bukanlah perkara mudah, terutama karena manusia lebih merupakan mahluk emosionil ketimbang rasional. Saya sendiri yang sok-sok-an menulis tentang fallacy inipun masih suka terperangkap dalam jeratannya….



fallacy kadang dijadikan strategi dalam berdagang juga lho. kayaknya beberapa kali denger orang MLM kayak yg di contoh itu
*tersindir…
*terutama contoh 1 dan 2..
contoh 5 itu nama lainnya appeal to pity ya?
no 3 sama 4 kok nggak dikasih nama latinnya? *latin ‘kan ya?
*
@Rist:
no.5 iya itu “appeal to pity”
soal nama latin no. 3 & 4 saya belom nemu waktu nulis itu
alias males nyari… mungkin bisa dikasih tau apa nama latinnya?